My Greatest Achievement

My little girl will be turning 10 within a couple of hours.

She’ll pass her child phase, moving to another phase of her life.

She’s quiet, like me. Deep in her thoughts, absorbing things happening around her. It’s not easy to ask her to tell things. I just let her decide when she’ll tell me herself. I don’t like being pushed and I won’t do that to others.

She’s one of the shortest in her class, but her mind isn’t. She has a broad mind, influenced by what she’s seen so far. She has traveled far since she was a baby, has seen people from different races, language, religion and colors.

I’m often not proud of myself, I feel like I haven’t achieved anything in my life. But when I look at her, my heart blooms with pride. To see her mirroring my pride to my country, to see her serving altar like me when I was little. And I never force her to do those things.

She’s my greatest achievement, my pride. She makes my life meaningful, she’s a reminder that there’s something good comes from me.

She’s a gift that God has sent to me. A gift that has to be taken care of.

But there’s something else beyond all of those above. She’s not my posession. There will come a time when she’s ready to fly and spreads her wings and leave me. May God help us raising her, to prepare her for her future…

Rencana Tuhan

Beberapa hari yang lalu baca link ini, tentang rencana Tuhan yang seringnya tidak masuk akal kita: http://catholic-link.org/gods-plan-doesnt-make-sense/

Sering sekali merasa itu, saking seringnya bahkan sampai terbiasa.
Yang seringnya sih tentang kerja, pertanyaan yang sering nongol di kepala, sering dipertanyakan oleh orang-orang yang kenal aku lama.
Gimana aku, yang sudah lama kerja di tempat itu, berpengalaman dan berlatar belakang pendidikan itu, tapi tidak juga dapat kerja tetap.
Kenapa? Ya karena itu tidak sesuai dengan rencana Tuhan.

Orang yang tidak percaya Tuhan akan stress, terus menerus mempertanyakan.
Kalau aku mempertanyakannya, “Jadi gimana Tuhan, saya ikut rencana-Mu saja.  Di dalam tangan-Mu, kuserahkan hidupku.”
Dari link yang di atas, berarti aku sudah di fase 5.

Yang berat, amat berat adalah ketika ditinggal orang tercinta.
Contoh nyatanya 2 minggu yang lalu, ketika minggu pagi kaget baca berita meninggalnya anak teman lama jaman SD-SMA di Palembang.  Anak itu beda setahun dengan anakku, mudik kemarin kita ketemu di Jakarta, tahu-tahu temanku nulis di status kalau dia dipanggil Tuhan tiba-tiba.
Kehilangan anak menurutku adalah salah satu kejadian yang paling menyakitkan dalam hidup seseorang.
Anak yang mestinya kita amati tumbuh, pelihara, tiba-tiba duluan meninggalkan kita.
Itu tidak sesuai logika dan rencana kita, manusia.

Aku terus-terusan berdoa untuk temanku dan keluarganya, untuk kekuatan supaya mereka tabah menghadapi kehilangan ini. Temanku ini, bertahun-tahun ingin jadi Katolik, aktif di gereja walaupun tidak dibolehkan pindah agama karena tidak diijinkan orang tuanya.  Akhirnya dia dibaptis, resmi jadi anggota gereja setelah menikah dengan suaminya yang Katolik.  Aku kagum dengan orang seperti dia, imannya jauh lebih berkembang daripada kita yang dapat agama dari lahir karena ikut orang tua.

Lega rasanya ketika dengar dari teman kalau sejak kematian putrinya, dia mengadakan doa Rosario setiap hari di rumahnya.  Semoga imannya menguatkannya, semoga dia bisa bertenang dan menerima rencana Tuhan ini…

Menangkal Prasangka

pra·sang·ka n pendapat (anggapan) yg kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri

Manusia itu sepertinya diciptakan dengan prasangka.
Kita cenderung membentuk opini sendiri sebelum terbukti opini itu salah/benar.

Bila kamu berbeda dengan orang sekitar, prasangka itu sudah jadi makanan sehari-hari.
Ambil contoh aku, yang dari fisik saja sudah lain daripada orang sekitar.
Rambut, mata, kulit gelap, belum logat ketika buka mulut. Wajar kalau orang sudah berprasangka macam-macam sebelum mengenalku.

Ketika di posisi seperti itu, terserah kita, mau playing victim, mencoba membuktikan kalau prasangka ybs itu salah atau membiarkan ybs membuktikan sendiri kalau prasangkanya salah.

Sekarang aku cenderung yang terakhir, seperti “mendidik” sesama untuk tidak berprasangka macam-macam.
Ambil contoh sabtu lalu.  Aku kerja dengan anak muda yang sebenarnya kerjanya di bawahku, nyortir buku yang mesti dikirim ke perpus lain.  Ternyata dia juga diperbolehkan berfungsi sama sepertiku, melayani pengunjung, membantu menjawab pertanyaan.  Aku cuma nyengir waktu dengar, mbatin, “Let’s see what you can, dude.”

Dan ketika beberapa orang pengunjung datang, mereka memilih si anak muda, yang tentu saja berras sama dengan mereka. Aku, yang resmi pakai seragam dan badge, tidak mereka lirik.  Aku membiarkan, sambil mendengar percakapan mereka.
Dan terbukti, anak itu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.  Akhirnya pengunjung harus bertanya ke aku dan aku juga tidak membiarkan pertanyaan mereka tidak terjawab.

Aku sih sudah biasa diperlakukan berbeda. Prinsipku gini aja, gimana orang memperlakukan kita itu menunjukkan seperti apa mereka, begitu juga sebaliknya.

Don’t demand respect, show them with your action, that you deserve respect….

 

Freedom vs Feeling

Setelah dihitung-hitung, sebenarnya aku lebih lama kerja di perpustakaan sebagai invaller/substitute/pekerja pengganti daripada pekerja tetap.
Gak tau ya dibilang nasib atau apes atau emang gimana, dapat kontrak tahunan, diperpanjang berapa kali sampe limit yang mengharuskan organisasi ngasih kerja tetap, pada akhirnya tetap juga gak diperpanjang dan ketika balik lagi bekerja pun, kembali jadi pekerja pengganti, yang tidak punya hari kerja dan tempat kerja tetap, yang menggantikan pegawai tetap di kala mereka sakit atau liburan atau ada urusan kerja yang lain.

Sakit hati?
Sudah kebal kali ya.  Dan sebenarnya lebih menikmati kerja begini.
Selain karena bisa menyesuaikan dengan jadual dua anggota keluarga yang lain, sebenarnya kerja di tempat berbeda-beda itu lebih menantang dan mengasyikkan daripada kerja di satu atau dua tempat. Jadi lebih banyak kenal orang, tau tempat yang berbeda.

Dan kebebasan, ga ada beban ke satu perusahaan atau dedikasi atau apalah itu namanya.  Bukan berarti tidak tanggung jawab, karena yang namanya orang dewasa, ya kerja, tanggung jawab karena sudah diupah.

Berapa kali ada lowongan pekerjaan, gak ada keinginan untuk melamar.
Selain sudah tau seperti apa yang bakal mereka pilih (yang masih muda dan baru lulus dari universitas), ga ada keinginan untuk menetap di satu organisasi juga.

Gak enaknya?
Lebih ke perasaan internal sih. Persaingan antar pegawai pengganti awal-awalnya pasti ada. Rebutan, cepet-cepetan dapat kerja begitu ada email permintaan kerja. Tapi kemudian aku lebih percaya ke pendekatan pribadi.
Permintaan kerja datangnya bisa lewat email massa dari manager ke semua pegawai pengganti, atau email pribadi dari pegawai tetap ke pegawai pengganti.

Karena kenal dengan hampir semua pegawai tetap (maksimal cuma 3 mungkin yang tidak kukenal), ini termasuk nilai plusku. Aku ingin ketika mereka butuh pegawai pengganti, mereka akan ingat ke aku.  Aku juga orang yang ingin memastikan kalau mereka yakin kerja mereka tidak terbengkalai, puas ketika mereka kembali ke tempat kerjanya.
Sejauh ini ada beberapa kolega yang rutin minta aku untuk kerja menggantikan mereka.

Ada hal yang menarik dari kerja seperti ini.
Aku jadi belajar untuk berpikir kalau rejeki itu ada yang mengatur. Aku tidak butuh saingan dengan sesama, kalo ada kerja, kalo itu rejeki, gak akan kemana-mana.
Berpikir seperti itu, damai. Tidak perlu sikut-sikutan, mempertanyakan segala macam. Ada beberapa kolega yang seperti itu, capek liatnya.

Pada intinya, hidup itu ada yang ngatur. Kita pinginnya begini, begitu, tapi kalo yang Maha Mengatur lain rencananya, ya gak bisa dipaksain juga.
Just do the best and see how it goes…

 

 

Hari 15: Perkembangan Tantangan

Lima belas hari sudah berlalu, gimana perkembangan tantangan?

***** gak ada perkembangan, cuma posting satu hari, selanjutnya kosong****

Bukannya gak ada yang bisa ditulis, ada sih sebenarnya, cuma seperti malas buka laptop dan menyempetkan mengetik.
Bukti kalau pasif, sekedar baca di hape itu lebih gampang daripada produktif menulis.  Padahal sebenarnya menulis juga bisa dicoret-coret di notes dulu, kemudian dituangkan di sini.

Ternyata….

Aktif

Dulu awal-awal tinggal di sini, jamannya weblog.  Ada berbagai penyedia weblog: Blogger, Blogdrive, WordPress, dll.  Kemudian mulai muncul yang mungkin pencetus media sosial yang pertama seperti Friendster, Multiply, Myspace dan yang berbau lokal seperti Hyves.  Di situ pun ada layanan photo album dan blog.
Mulai dari situ weblog pelan-pelan tersingkir, apalagi dengan kemunculan Twitter, Facebook, Path, dll.
Kita jadi cenderung berbagi foto, cerita super pendek (status) atau berbagi berita atau link dari website lain yang bukan dari hasil tulisan sendiri.

Padahal sebenarnya nulis di weblog itu merangsang proses kreatif.
Berbeda dengan membaca, kita tinggal membaca yang sudah ditulis orang lain.  Sementara menulis, otak disuruh berpikir mau menulis apa.

Ketika liat tantangan menulis ini di twitter, tiba-tiba jadi tergerak untuk menulis lagi.
Dulu bisa nulis di weblog dua hari sekali atau bahkan tiap hari, kenapa sekarang tidak?
Pasti ada yang bisa diceritakan, diungkapkan.

Jadi, tidak ada salahnya ikut tantangan ini. Untuk menantang pribadi saja sebenarnya…

Don’t Sweat on Little Things

Pagi ini baca satu tweet yang menarik:

Maak je niet druk over wat je niet kunt veranderen. Kijk verder en groei in je eigen toegevoegde waarde.

Yang kalo dibahasa Inggriskan kira-kira: don’t sweat on things that you can’t change. Look forward and grow in your own worth/values.

Ini yang saya rasakan sejak akhir tahun lalu, ketika dengar kabar kontrak tidak diperpanjang untuk kesekian kalinya, ketika lamaran kerja tidak diterima padahal pengalaman tidak kurang-kurang.  Ketika ditolak pun, saya tidak tertarik bertanya apa alasannya.  Buat apa? Saya bisa kira-kira menebak apa alasannya dan saya tidak perlu orang lain memberitau sesuatu yang saya sudah tahu.

Itu masalah mereka kalau mereka tidak terima saya, bukan masalah saya…

Terus terang, saya capek dibeginikan.  Ini yang bikin saya tidak lamar kerja lagi, untungnya sejauh ini tiap bulan ada paling tidak satu atau dua hari kerja jadi invaller atau pengganti kalau ada yang sakit atau libur.  Begitu saja cukup, untungnya saya di posisi yang beruntung karena suami bekerja tetap.

Sekarang saya lebih berpikir positif daripada tahun-tahun yang lalu.
Capek berpikir jadi victim atau korban, walaupun terus terang kalau jadi orang asing, mau tidak mau ada perasaan didiskriminasi.  Dan mau tidak mau saya jadi menyalahkan negara sialan ini.  Mungkin saya datang di waktu yang salah, dari awal di sini nasib begini-begini saja.  Kondisi ekonomi bukannya membaik, malah memburuk.
Atau bisa jadi, saya pilih profesi yang salah, yang tidak sesuai dengan pribadi saya.
Nah, mulai lagi saya berpikir di posisi korban.
Mungkin ini kompensasi saya ketika berkali-kali dikecewakan.

Yang pasti prioritas saya sekarang berubah.  Bukan kerja lagi, tapi lebih untuk anak tercinta, untuk sesuatu yang lain yang bukan untuk negara ini.
Mewujudkan sesuatu yang bisa ditolong di tanah air, yang bikin saya bahagia walaupun mungkin tidak menghasilkan materi, tapi kepuasannya itu lho.

Don’t sweat on little things, cari dan lakukan sesuatu yang bikin diri sendiri berharga, bukan yang bikin timbul perasaan-perasaan yang jelek. ..

Perkenalan Komuni Pertama

IMG_2889Hari ini bisa dibilang bersejarah juga.
Aku berapa kali mendatangi misa yang pas ada perkenalan anak-anak yang sedang persiapan Komuni Pertama. Hari ini, anak sendiri yang ikutan!

Acaranya di gereja Haalderen.  Mereka sebelumnya disuruh mengisi dan menghias di atas kertas yang ada gambar kaki (diisi dengan informasi diri) dan tangan (yang mereka suka lakukan untuk orang lain) yang nantinya bakal dibacakan di depan gereja kemudian digantung di gereja.

Ada koor anak-anak juga. Semoga Adinda pingin nyanyi di situ nanti, kayaknya dia tertarik tapi masih ragu-ragu, padahal kalau mau daftar tinggal kasih tau pembimbingnya.

Orang tua juga dikasih kertas yang diisi harapan untuk anak kita. Aku ngisinya bimbingan dalam hari-hari dan di jalan hidupnya, juga untuk cinta Tuhan yang dikirimkan lewat orang-orang yang dijumpai.

 

 

Usaha Ngeblog Lagi

Wow, ngeblog.

Tentunya beda dengan twitter yang cuma dibatasi sekian karakter, atau facebook dimana orang gampang bereaksi karena nongol di Newsfeed.
Sementara blog?
Dulu jaman belum ada sosial media di atas, ada yang namanya blogroll, blogreader dll yang menolong kita melihat begitu ada postingan teman yang baru.

Teman blog, itu juga teman yang unik.
Dulu dapetinnya lewat blogwalking atau lewat forum.  Ada beberapa teman yang kudapat dari blog dan sampe sekarang masih temenan walaupun kita belum pernah ketemu langsung.

Sekarang pun nulis begini rasanya jadi terintimidasi.
Karena tidak terbiasa nulis panjang? Does it say something about the way we think?
Apa kita jadi pemalas dan kurang kreatif dibanding ketika dulu rajin nulis di blog?

Sebenarnya ini jadi tantangan baru, menulis itu proses kreatif, sama seperti bikin foto atau pekerjaan tangan lain seperti menjahit, merajut, melukis dan sejenisnya.

Mulai darimana ya?

Kalau liat postingan sebelum ini, 2012…
Sebenarnya itu bukan waktu terakhirku nulis, ada nulis pribadi di blog yang eksis dari jaman dulu tapi diset rahasia.
Yang ini diisi yang bisa dibaca umum, seperti jaman dulu ketika jadi isi uneg-uneg atau pengalaman di sini yang bisa jadi pelajaran untuk diri sendiri atau orang lain.

So, tanpa ragu atau mikir terlalu lama, mulai nulis lagi ah!

There’s no place like you…

Brussels!
My first foreign experience, my first love!

Entah kenapa, kota yang satu ini selalu bikin kangen.  Dua tahun tinggal di situ, rasanya semua begitu familiar.
Apalagi dengan kembalinya kontak lama dengan B, pembimbing mahasiswa asing yang dulu bantu-bantu ketika pertama datang ke kota ini.  Orangnya ramah dan kocak dan yang membantuku melupakan perasaan gak enak, kekecewaan akan masa lalu.

Pertemanan kami yang kali ini pake bahasa Belanda, semoga bisa langgeng selamanya.  Aku liat dia sebagai abang, harus kuakui, aku yang dulunya banyak punya teman cowok, suka kangen dengan pertemanan dengan beda jenis kelamin ini.  Nothing’s wrong with my girlfriends, but it’s always interesting to hear what other sex thinks on how we think.  Other thing is, guys are for real, no drama, no gossip, but sometimes you have to be able to accept if they think you’re too much :))

Café Greenwich, BrusselHari Sabtu kemaren kita berdua ke Brussels, dalam rangka ngerayain ultahku.  Pingin ke sana tanpa boneka, yang sehari dititipin ke iparku.  Makan siang dengan B di Le Trappiste, tempat makan favorit kita.  Habis itu jalan-jalan nonton pertandingan sepeda mainan dan ke cafe Greenwich yang bikin terbengong-bengong karena indahnya.  Kata B, “You will always discover something new in Brussels.” I can’t agree more with that!