Don’t Sweat on Little Things

Pagi ini baca satu tweet yang menarik:

Maak je niet druk over wat je niet kunt veranderen. Kijk verder en groei in je eigen toegevoegde waarde.

Yang kalo dibahasa Inggriskan kira-kira: don’t sweat on things that you can’t change. Look forward and grow in your own worth/values.

Ini yang saya rasakan sejak akhir tahun lalu, ketika dengar kabar kontrak tidak diperpanjang untuk kesekian kalinya, ketika lamaran kerja tidak diterima padahal pengalaman tidak kurang-kurang.  Ketika ditolak pun, saya tidak tertarik bertanya apa alasannya.  Buat apa? Saya bisa kira-kira menebak apa alasannya dan saya tidak perlu orang lain memberitau sesuatu yang saya sudah tahu.

Itu masalah mereka kalau mereka tidak terima saya, bukan masalah saya…

Terus terang, saya capek dibeginikan.  Ini yang bikin saya tidak lamar kerja lagi, untungnya sejauh ini tiap bulan ada paling tidak satu atau dua hari kerja jadi invaller atau pengganti kalau ada yang sakit atau libur.  Begitu saja cukup, untungnya saya di posisi yang beruntung karena suami bekerja tetap.

Sekarang saya lebih berpikir positif daripada tahun-tahun yang lalu.
Capek berpikir jadi victim atau korban, walaupun terus terang kalau jadi orang asing, mau tidak mau ada perasaan didiskriminasi.  Dan mau tidak mau saya jadi menyalahkan negara sialan ini.  Mungkin saya datang di waktu yang salah, dari awal di sini nasib begini-begini saja.  Kondisi ekonomi bukannya membaik, malah memburuk.
Atau bisa jadi, saya pilih profesi yang salah, yang tidak sesuai dengan pribadi saya.
Nah, mulai lagi saya berpikir di posisi korban.
Mungkin ini kompensasi saya ketika berkali-kali dikecewakan.

Yang pasti prioritas saya sekarang berubah.  Bukan kerja lagi, tapi lebih untuk anak tercinta, untuk sesuatu yang lain yang bukan untuk negara ini.
Mewujudkan sesuatu yang bisa ditolong di tanah air, yang bikin saya bahagia walaupun mungkin tidak menghasilkan materi, tapi kepuasannya itu lho.

Don’t sweat on little things, cari dan lakukan sesuatu yang bikin diri sendiri berharga, bukan yang bikin timbul perasaan-perasaan yang jelek. ..

Perkenalan Komuni Pertama

IMG_2889Hari ini bisa dibilang bersejarah juga.
Aku berapa kali mendatangi misa yang pas ada perkenalan anak-anak yang sedang persiapan Komuni Pertama. Hari ini, anak sendiri yang ikutan!

Acaranya di gereja Haalderen.  Mereka sebelumnya disuruh mengisi dan menghias di atas kertas yang ada gambar kaki (diisi dengan informasi diri) dan tangan (yang mereka suka lakukan untuk orang lain) yang nantinya bakal dibacakan di depan gereja kemudian digantung di gereja.

Ada koor anak-anak juga. Semoga Adinda pingin nyanyi di situ nanti, kayaknya dia tertarik tapi masih ragu-ragu, padahal kalau mau daftar tinggal kasih tau pembimbingnya.

Orang tua juga dikasih kertas yang diisi harapan untuk anak kita. Aku ngisinya bimbingan dalam hari-hari dan di jalan hidupnya, juga untuk cinta Tuhan yang dikirimkan lewat orang-orang yang dijumpai.

 

 

Usaha Ngeblog Lagi

Wow, ngeblog.

Tentunya beda dengan twitter yang cuma dibatasi sekian karakter, atau facebook dimana orang gampang bereaksi karena nongol di Newsfeed.
Sementara blog?
Dulu jaman belum ada sosial media di atas, ada yang namanya blogroll, blogreader dll yang menolong kita melihat begitu ada postingan teman yang baru.

Teman blog, itu juga teman yang unik.
Dulu dapetinnya lewat blogwalking atau lewat forum.  Ada beberapa teman yang kudapat dari blog dan sampe sekarang masih temenan walaupun kita belum pernah ketemu langsung.

Sekarang pun nulis begini rasanya jadi terintimidasi.
Karena tidak terbiasa nulis panjang? Does it say something about the way we think?
Apa kita jadi pemalas dan kurang kreatif dibanding ketika dulu rajin nulis di blog?

Sebenarnya ini jadi tantangan baru, menulis itu proses kreatif, sama seperti bikin foto atau pekerjaan tangan lain seperti menjahit, merajut, melukis dan sejenisnya.

Mulai darimana ya?

Kalau liat postingan sebelum ini, 2012…
Sebenarnya itu bukan waktu terakhirku nulis, ada nulis pribadi di blog yang eksis dari jaman dulu tapi diset rahasia.
Yang ini diisi yang bisa dibaca umum, seperti jaman dulu ketika jadi isi uneg-uneg atau pengalaman di sini yang bisa jadi pelajaran untuk diri sendiri atau orang lain.

So, tanpa ragu atau mikir terlalu lama, mulai nulis lagi ah!

There’s no place like you…

Brussels!
My first foreign experience, my first love!

Entah kenapa, kota yang satu ini selalu bikin kangen.  Dua tahun tinggal di situ, rasanya semua begitu familiar.
Apalagi dengan kembalinya kontak lama dengan B, pembimbing mahasiswa asing yang dulu bantu-bantu ketika pertama datang ke kota ini.  Orangnya ramah dan kocak dan yang membantuku melupakan perasaan gak enak, kekecewaan akan masa lalu.

Pertemanan kami yang kali ini pake bahasa Belanda, semoga bisa langgeng selamanya.  Aku liat dia sebagai abang, harus kuakui, aku yang dulunya banyak punya teman cowok, suka kangen dengan pertemanan dengan beda jenis kelamin ini.  Nothing’s wrong with my girlfriends, but it’s always interesting to hear what other sex thinks on how we think.  Other thing is, guys are for real, no drama, no gossip, but sometimes you have to be able to accept if they think you’re too much :))

Café Greenwich, BrusselHari Sabtu kemaren kita berdua ke Brussels, dalam rangka ngerayain ultahku.  Pingin ke sana tanpa boneka, yang sehari dititipin ke iparku.  Makan siang dengan B di Le Trappiste, tempat makan favorit kita.  Habis itu jalan-jalan nonton pertandingan sepeda mainan dan ke cafe Greenwich yang bikin terbengong-bengong karena indahnya.  Kata B, “You will always discover something new in Brussels.” I can’t agree more with that!

 

Seminggu Kemudian

Gak kerasa udah seminggu aku gak kerja.  Minggu ini gak kerasa gimana-gimana karena Gegen libur seminggu dan kita ada kegiatan di luar rumah.  Seperti kemaren, dalam rangka sebelum ulang tahun, kita ke Brussels, Adinda dititip sehari di Christine.  Ngundang B yang memang tinggal di Brussels untuk makan siang dengan kita.  Makannya di Le Trappiste, tempat nostalgia dulu, tempat hubungan kita berawal.  Seneng kemaren ngobrol bertiga, nengok kota favoritku.

“Perpisahan” di tempat kerja udah dimulai dari hari Kamis, “pamit” dengan kolega, eh dapat beberapa buah tangan juga. Sempat terharu juga dapat perlakuan seperti ini.  Ada yang ngasih bunga, coklat, kartu pribadi dan tentunya kadobon dari perpus.  T, teman kerjaku tiap Jumat malam bilang dia bakal kehilangan percakapan kita tentang musik, komputer dan lain-lainnya.  Hari Sabtu hari terakhir kerja, bos M datang bawa bunga dan kadobon.  Kita banyak ngobrol soal anaknya yang lagi hamil, tentang rencana direktur baru dan tentang pengganti.  Aku cuma punya dua kali kesempatan untuk melatih penggantiku karena waktunya mendadak sekali.  Bukan salahku kalau sampai begini, tapi aku merasa bertanggung jawab juga.   Agak menguatirkan juga melihat kemampuan komputernya. Memang mediaverwerking itu cuma masuk-masukin buku di koleksi, tapi kalo gak familiar sama katalog ya repot juga.
Masalah ini kuceritakan ke bos M dan dia nyuruh aku bilang ke bos V, supaya jelas.  Semoga gak papa deh, eh tapi kalo apa-apa pun dan jadinya kacau kan malah bikin aku bisa dipanggil kerja lagi=))

Bos-bosku bilang masalah kontrakku (dan 2 kolega uitzendkracht lainnya) adalah murni keputusan direktur, murni karena masalah dana.  Peraturannya aku harus berhenti 3 bulan, setelah itu sebenarnya mereka bisa manggil aku lagi.  Aku gak mau punya harapan apa-apa, sakit kalo nanti gak dapat.

Rasa kecewa yang lalu berkurang banyak melihat dukungan dari kolega, juga rasa pasrah.  Akhirnya semua kan di tangan Tuhan juga.  Mau ngotot begini-begitu, kalo Yang Di Atas gak mengijinkan, mau apa.
Toh tinggal dua bulan lagi mau pulang, mau jalan-jalan pula.  Terus sebenarnya banyak juga yang mesti dikerjain di rumah kayak bersihin jendela luar, rapiin baju-baju dan boneka Adinda.

Just keep busy…

Hari yang Aneh

Hari ini hari yang aneh banget.
Siang dipanggil bos M, ditanya apa aku mau diadain pesta perpisahan.
Ha? Perpisahan?
Ternyata harapan kecilku yang akan dipanggil lagi setelah “dipaksa” berhenti kerja selama 3 bulan karena peraturan biro kerja, cuma tinggal sebatas harapan.  Yang kurasakan bukan hanya kecewa, tapi juga amarah.
Marah karena merasa “dibuang” begitu saja, setelah sekian lama kerja di situ.
Marah karena jadi korban ekonomi, seakan bukan manusia, tapi angka atau boneka yang ditendang karena gampang untuk ditendang.

Aku bilang belum tahu apa mau dipestakan.
Tapi sekarang aku tahu apa jawabanku.  Ngapain datang ke rapat yang aku gak ada kerjaannya setelah itu? Ngapain memestakan sesuatu yang tidak layak untuk dipestakan? Masak kehilangan kerja dipestakan? Kehilangan kerja karena keputusan satu pihak terus dipestakan?
Kalau bisa, uang pestanya dikasihkan saja.

Aku tahu cepat atau lambat ini akan jadi jelas.  Sekarang yang perlu dipikirkan adalah gimana langkah ke depannya.
Walaupun masih susah karena sakit hati yang gak karuan.  Aku mencoba mikir positif walaupun susah banget.
Masih untung sekarang Gegen kerja, masih untung kita sehat-sehat saja.  Gak ada yang sakit parah.
Masih untung bisa membandingkan ketika dulu Gegen nganggur, betapa gak enaknya perasaan hati dan suasana rumah.
Masih untung…

Tapi memang lebih gampang untuk berpikir negatif.
Kenapa saat di bulan jatuhnya hari jadiku, aku malah gak punya kerja?
Sejak kapan kerja jadi sebuah kemewahan?

Sekarang yang kutakutkan gimana caraku menghadapi minggu-minggu terakhir di tempat kerja.  Gimana caranya menahan diri kalau ada kolega yang mengeluhkan kerja dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meledak?

Tuhan, apa rencana-Mu untukku?

Kemudian hari ini setelah enam tahun menemaniku, mobil pertamaku, Si Merah harus diganti karena gak bisa berfungsi lagi.  Rasanya gak rela, tapi mau apa lagi…

Kutahu suatu hari nanti aku harus melepaskanmu
Di saat kau tak lagi bisa menemaniku
Di saat tubuhmu yang tua tak bisa lagi berfungsi seperti dulu

Kau bagai teman setiaku
Membawaku ke satu titik ke titik lainnya
Kau yang pertama, yang takkan kulupa

Semua pengalaman pertamaku kujalani denganmu
Perjalanan jauh, benturan bahkan goresan-goresan di tubuhmu jadi saksinya
Aku pernah menangis bersamamu, tertawa dan bernyanyi bersamamu
Dan kau hanya diam mendengarkanku,  setia tanpa keluhan

Walaupun kau hanya buatan manusia beroda empat
Tubuhmu penuh goresan dan karat
Tapi kau tetap cantik di mataku

Kurelakan melepaskanmu, walaupun perih di hatiku
Terima kasih untuk enam tahun ini, Merah
Terima kasih untuk kesetiaanmu, tak pernah kau kecewakan aku
Kini saatnya kau istirahat, waktumu telah habis

Aku bangga pernah jadi pemilikmu, yang terakhir kalinya

https://rwidiani.wordpress.com/2006/06/07/serba-pertama/

 

Yang baru berlalu

Tahun 2011 akan kukenang sebagai tahun yang penuh naik turun, seperti roller coaster.  Ada saat kekecewaan, ketidakpastian menghantui, tapi juga saat optimis dan kepercayaan diri yang muncul.

Harapanku tahun 2012 akan lebih cerah daripada 2011.  Kita akan memulai fase baru sebagai orang tua, ketika Adinda masuk sekolah.  Tahun depan juga diberi kesempatan untuk pulang lagi, kali ini karena ada acara bahagia, dimulainya hidup baru untuk adik semata wayangku.

Di kerjaan, sejauh ini kita belum pasti juga, belum punya kerja tetap, tapi kontrak sampai setengah tahun pertama.  Harus disyukuri tentunya.  Apa yang akan terjadi setelah itu, biar Tuhan yang menentukan.
Kita percaya, gak ada gunanya berkuatir, memikirkan yang belum terjadi.  Semua ada di tangan-Nya, kita percayakan hidup kami di tangan-Nya.

Resolusiku untuk tahun yang baru,:
– Baca buku lebih banyak
Untuk 2011 aku masang tantangan 40 buku dan ini tercapai.  Pinginnya baca buku yang masih tergeletak di rumah.  Sayang disia-sia

– Nurunin berat
Jadi ngikut orang sini, kalo di awal tahun pada pingin nurunin bb=)) Tapi bener,  kemaren sempet ngerasain sebentar berat kepala 5 dan rasanya bahagia sekali.  Pingin tau caranya gimana pencernaan lebih lancar, lebih banyak makan sayur dan buah