Freedom vs Feeling

Setelah dihitung-hitung, sebenarnya aku lebih lama kerja di perpustakaan sebagai invaller/substitute/pekerja pengganti daripada pekerja tetap.
Gak tau ya dibilang nasib atau apes atau emang gimana, dapat kontrak tahunan, diperpanjang berapa kali sampe limit yang mengharuskan organisasi ngasih kerja tetap, pada akhirnya tetap juga gak diperpanjang dan ketika balik lagi bekerja pun, kembali jadi pekerja pengganti, yang tidak punya hari kerja dan tempat kerja tetap, yang menggantikan pegawai tetap di kala mereka sakit atau liburan atau ada urusan kerja yang lain.

Sakit hati?
Sudah kebal kali ya.  Dan sebenarnya lebih menikmati kerja begini.
Selain karena bisa menyesuaikan dengan jadual dua anggota keluarga yang lain, sebenarnya kerja di tempat berbeda-beda itu lebih menantang dan mengasyikkan daripada kerja di satu atau dua tempat. Jadi lebih banyak kenal orang, tau tempat yang berbeda.

Dan kebebasan, ga ada beban ke satu perusahaan atau dedikasi atau apalah itu namanya.  Bukan berarti tidak tanggung jawab, karena yang namanya orang dewasa, ya kerja, tanggung jawab karena sudah diupah.

Berapa kali ada lowongan pekerjaan, gak ada keinginan untuk melamar.
Selain sudah tau seperti apa yang bakal mereka pilih (yang masih muda dan baru lulus dari universitas), ga ada keinginan untuk menetap di satu organisasi juga.

Gak enaknya?
Lebih ke perasaan internal sih. Persaingan antar pegawai pengganti awal-awalnya pasti ada. Rebutan, cepet-cepetan dapat kerja begitu ada email permintaan kerja. Tapi kemudian aku lebih percaya ke pendekatan pribadi.
Permintaan kerja datangnya bisa lewat email massa dari manager ke semua pegawai pengganti, atau email pribadi dari pegawai tetap ke pegawai pengganti.

Karena kenal dengan hampir semua pegawai tetap (maksimal cuma 3 mungkin yang tidak kukenal), ini termasuk nilai plusku. Aku ingin ketika mereka butuh pegawai pengganti, mereka akan ingat ke aku.  Aku juga orang yang ingin memastikan kalau mereka yakin kerja mereka tidak terbengkalai, puas ketika mereka kembali ke tempat kerjanya.
Sejauh ini ada beberapa kolega yang rutin minta aku untuk kerja menggantikan mereka.

Ada hal yang menarik dari kerja seperti ini.
Aku jadi belajar untuk berpikir kalau rejeki itu ada yang mengatur. Aku tidak butuh saingan dengan sesama, kalo ada kerja, kalo itu rejeki, gak akan kemana-mana.
Berpikir seperti itu, damai. Tidak perlu sikut-sikutan, mempertanyakan segala macam. Ada beberapa kolega yang seperti itu, capek liatnya.

Pada intinya, hidup itu ada yang ngatur. Kita pinginnya begini, begitu, tapi kalo yang Maha Mengatur lain rencananya, ya gak bisa dipaksain juga.
Just do the best and see how it goes…

 

 

Iklan