Menangkal Prasangka

pra·sang·ka n pendapat (anggapan) yg kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri

Manusia itu sepertinya diciptakan dengan prasangka.
Kita cenderung membentuk opini sendiri sebelum terbukti opini itu salah/benar.

Bila kamu berbeda dengan orang sekitar, prasangka itu sudah jadi makanan sehari-hari.
Ambil contoh aku, yang dari fisik saja sudah lain daripada orang sekitar.
Rambut, mata, kulit gelap, belum logat ketika buka mulut. Wajar kalau orang sudah berprasangka macam-macam sebelum mengenalku.

Ketika di posisi seperti itu, terserah kita, mau playing victim, mencoba membuktikan kalau prasangka ybs itu salah atau membiarkan ybs membuktikan sendiri kalau prasangkanya salah.

Sekarang aku cenderung yang terakhir, seperti “mendidik” sesama untuk tidak berprasangka macam-macam.
Ambil contoh sabtu lalu.  Aku kerja dengan anak muda yang sebenarnya kerjanya di bawahku, nyortir buku yang mesti dikirim ke perpus lain.  Ternyata dia juga diperbolehkan berfungsi sama sepertiku, melayani pengunjung, membantu menjawab pertanyaan.  Aku cuma nyengir waktu dengar, mbatin, “Let’s see what you can, dude.”

Dan ketika beberapa orang pengunjung datang, mereka memilih si anak muda, yang tentu saja berras sama dengan mereka. Aku, yang resmi pakai seragam dan badge, tidak mereka lirik.  Aku membiarkan, sambil mendengar percakapan mereka.
Dan terbukti, anak itu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.  Akhirnya pengunjung harus bertanya ke aku dan aku juga tidak membiarkan pertanyaan mereka tidak terjawab.

Aku sih sudah biasa diperlakukan berbeda. Prinsipku gini aja, gimana orang memperlakukan kita itu menunjukkan seperti apa mereka, begitu juga sebaliknya.

Don’t demand respect, show them with your action, that you deserve respect….

 

Iklan